Popularitas Social Commerce di Dunia: Tiongkok Memimpin, India Menyusul

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan media sosial, cara konsumen berbelanja pun mengalami perubahan drastis. Belanja online yang awalnya didominasi oleh marketplace besar seperti Amazon dan AliExpress kini mulai menghadapi persaingan dari social commerce—konsep belanja yang memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Social commerce memungkinkan konsumen untuk langsung membeli produk saat mereka berselancar di media sosial, menjadikannya salah satu tren terbesar dalam industri e-commerce. Dengan semakin banyaknya retailer dan brand yang memanfaatkan platform ini, tren social commerce diproyeksikan akan terus tumbuh di berbagai negara.

Read More

Berdasarkan infografis di atas, maka akan dijelaskan sebagai berikut.

Perkembangan Social Commerce di Dunia

E-commerce terus berkembang pesat sejak pertama kali muncul di awal era internet. Dari toko online milik retailer hingga platform all-in-one seperti Amazon, JD, atau AliExpress, belanja online semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tren terbaru yang semakin menarik perhatian adalah social commerce, yaitu integrasi solusi belanja di platform media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Menurut data dari Statista Market Insights, diproyeksikan bahwa 22 persen transaksi e-commerce global akan berasal dari social commerce pada tahun 2028. Tren ini menunjukkan bagaimana media sosial semakin berperan dalam pengalaman berbelanja konsumen di seluruh dunia.

Dominasi Tiongkok dalam Social Commerce

Meskipun social commerce terus tumbuh di berbagai negara, Tiongkok telah melampaui proyeksi global. Data dari Statista menunjukkan bahwa 47 persen dari seluruh pendapatan e-commerce di Tiongkok sudah berasal dari social commerce, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi global.

Salah satu platform yang berperan besar dalam tren ini adalah Douyin, versi domestik dari TikTok, yang memiliki sekitar 750 juta pengguna aktif bulanan pada akhir tahun 2023. Sebagai perbandingan, TikTok versi global hanya memiliki sekitar 150 juta pengguna aktif bulanan di Amerika Serikat dan 130 juta di Uni Eropa. Hal ini menunjukkan dominasi Tiongkok dalam memanfaatkan social commerce untuk meningkatkan pendapatan e-commerce secara signifikan.

Perbandingan dengan Negara-Negara Ekonomi Besar Lainnya

Ketika melihat negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar lainnya, peran social commerce dalam e-commerce masih relatif kecil. Di India, diperkirakan sekitar 23 persen pendapatan e-commerce akan berasal dari social commerce pada tahun 2028, tetapi di negara-negara ekonomi besar lainnya, subsektor ini diperkirakan tidak akan mencapai angka dua digit.

Secara keseluruhan, pendapatan e-commerce global diperkirakan mencapai antara US$2,7 hingga US$3,4 triliun pada tahun 2023, dengan pendapatan dari social commerce diproyeksikan berada di kisaran US$500 hingga US$629 miliar. Meskipun angka ini terlihat besar, kontribusi social commerce di negara-negara selain Tiongkok masih akan berkembang secara bertahap.

Social commerce telah menjadi kekuatan besar dalam industri e-commerce, dengan Tiongkok berada di garis terdepan. Meskipun tren ini mulai menyebar ke negara-negara lain, dampaknya masih bervariasi tergantung pada adopsi platform media sosial untuk belanja online. Seiring dengan semakin pentingnya peran social commerce, negara-negara lain diharapkan mulai mempercepat adopsi tren ini untuk memaksimalkan potensi pendapatan di masa depan.

Related posts