Prosperitas Berbagi Kiat untuk Menghadapi Serangan Siber Melalui Ketahanan Mandiri

Insiden serangan terhadap server Pusat Data Nasional (PDN) baru-baru ini telah menggugah kesadaran akan pentingnya memperkuat ketahanan siber di Indonesia. Menanggapi hal ini, PT Prosperita Mitra Indonesia (Prosperita), perusahaan teknologi keamanan siber terkemuka, hari ini membagikan kiat praktis untuk menjaga ketahanan siber secara mandiri kepada masyarakat dan organisasi di tanah air.

Menurut data yang diterbitkan oleh AwanPintar.id, sejak awal Juni 2024, lebih dari 13 juta serangan siber telah terdeteksi mencoba merusak infrastruktur teknologi di Indonesia. Hal ini menjadi peringatan serius akan ancaman yang terus berkembang di dunia digital saat ini.

Yudhi Kukuh, Konsultan Keamanan IT dari Prosperita, menekankan perlunya langkah-langkah proaktif dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks ini. “Kami menyarankan setiap individu dan organisasi untuk membangun ketahanan siber secara mandiri. Ini adalah bagian penting dari strategi kolektif untuk melindungi diri dari serangan yang tidak terduga,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.

Berikut adalah beberapa kiat yang dibagikan oleh Prosperita untuk menguatkan ketahanan siber:

  1. Pemasangan Antivirus dan Update Reguler: Pastikan perangkat server dilengkapi dengan antivirus yang terbaru dan dilindungi dengan kata sandi yang kuat.
  2. Pemantauan dan Filterisasi Traffic: Lakukan filter terhadap traffic port yang digunakan untuk mencegah malware yang dapat dieksploitasi oleh pihak berwenang jahat.
  3. Pengelolaan Akses Remote: Batasi aplikasi remote yang dapat diakses, terutama saat akhir pekan, guna mengurangi risiko penyerangan.
  4. Pemantauan Port Remote: Pastikan port remote yang terhubung ke internet tidak terbuka, seperti port 3389, 22, dan lainnya yang sering menjadi sasaran utama.
  5. Keamanan Database: Lindungi port database dari akses langsung ke internet untuk mengurangi risiko penetrasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
  6. Pemantauan dan Penutupan Port Sharing: Pastikan port sharing seperti 137-139 dan 445 tidak terhubung secara langsung ke internet, untuk menghindari akses yang tidak sah.
  7. Pembaruan Keamanan Sistem: Rutin lakukan pemindaian terhadap sistem operasi, aplikasi, dan perangkat terhubung untuk menutup celah keamanan yang potensial.
  8. Pemantauan Trafik File dan Email: Lakukan pemindaian terhadap semua file dan email yang masuk, termasuk mengidentifikasi spam, phishing, dan lampiran berbahaya.
  9. Patching CVE: Segera lakukan pembaruan terhadap kerentanan keamanan (CVE) yang terdeteksi pada sistem operasi dan aplikasi yang digunakan.

Yudhi juga menegaskan pentingnya pendidikan kontinu terkait keamanan siber bagi individu, organisasi, dan perusahaan. “Pemahaman yang mendalam tentang risiko dan dampak serangan siber sangat penting untuk mengurangi kerentanan dan menghindari kerugian yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Dengan adanya upaya kolaboratif dan komitmen untuk meningkatkan ketahanan siber, diharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih siap menghadapi tantangan dalam era digital yang penuh dengan risiko ini.

Related posts