Dr. dr. Fitria Agustina Sp.D.V.E., FINSDV, FAADV, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menjelaskan karakteristik klinis ruam yang sering ditemukan pada penderita cacar monyet atau Mpox. Menurut Fitria, yang dihubungi melalui pesan singkat pada Kamis, 22 Agustus 2024, lesi dan ruam Mpox sering kali muncul di area genital, anorektal, atau di dalam mulut, dan biasanya dimulai dari wajah.
Dalam laporan wabah tahun 2022, Fitria menyebutkan bahwa ruam Mpox tidak selalu menyebar ke seluruh tubuh. “Ruam bisa terbatas pada beberapa lesi atau bahkan hanya satu lesi, dan tidak selalu muncul di telapak tangan atau telapak kaki,” katanya.
Fitria menjelaskan bahwa lesi pada cacar monyet sering kali menimbulkan nyeri, namun saat proses penyembuhan, pasien sering mengalami gatal. Lesi ini biasanya muncul secara bersamaan dalam berbagai stadium, kondisi yang dikenal dengan istilah asinkron.
Lesi yang muncul di area genital juga dapat menyebabkan gejala tambahan seperti tinja bernanah atau berdarah, nyeri, atau pendarahan di sekitar dubur.
Dia juga membedakan antara ruam cacar monyet dan cacar air. Menurutnya, ruam pada cacar monyet lebih padat, dengan lepuhan berisi cairan yang kemudian menjadi luka keropeng. “Lesi biasanya lebih besar dan lebih seragam dibandingkan dengan cacar air dan sering disertai gejala demam tinggi, nyeri otot, dan pembengkakan kelenjar getah bening yang lebih dominan,” jelasnya.
Fitria menambahkan bahwa cacar monyet umumnya berlangsung selama 2-4 minggu. Meskipun gejalanya mungkin tampak ringan, Mpox bisa menyebabkan komplikasi serius, termasuk infeksi sekunder, pneumonia, ensefalitis, infeksi kornea, bahkan hilangnya penglihatan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, dan pasien dengan gangguan sistem imun.
Pengobatan Mpox bersifat simtomatik, fokus pada pengurangan gejala demam dan nyeri. Vaksin cacar (smallpox) juga memberikan perlindungan terhadap cacar monyet. Berdasarkan data WHO tahun 2022, vaksinasi Mpox difokuskan pada individu dengan risiko tinggi, seperti mereka yang memiliki pasangan seksual lebih dari satu, tenaga kesehatan yang berisiko terpapar, petugas laboratorium, dan kontak erat dalam waktu empat hari sejak paparan.
“Vaksinasi bertujuan untuk mencegah munculnya gejala atau meminimalkan keparahan penyakit. Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan vaksin di Indonesia akan diatur sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Fitria.






