Romantisme Pasangan Suami-Istri Atlet Panjat Tebing Bersanding di Podium Medali

Suasana haru dan bahagia mewarnai Arena Panjat Tebing di Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatra 2024. Dua atlet panjat tebing, Bim Sigrid dan Widia Fujiyanti, yang juga merupakan pasangan suami-istri, berhasil meraih medali perunggu di nomor combined (boulder and lead) mix, dan tampil bersama di podium dengan penuh kebahagiaan.

Bim dan Widia, yang merupakan perwakilan kontingen Jawa Barat, dengan cepat keluar dari ruang tunggu begitu nama mereka diumumkan. Di atas podium, Widia tampak sumringah sambil menyeka keringat di wajah suaminya, sementara Bim terus tersenyum lebar di hadapan penonton. Medali perunggu ini menjadi pencapaian istimewa bagi pasangan ini, yang sebelumnya tidak mengetahui bahwa mereka akan dipasangkan dalam nomor baru di PON Aceh-Sumut tersebut.

Read More

“Senang banget, enggak nyangka. Kami baru tahu sehari sebelum pertandingan kalau kami dipasangkan. Rasanya luar biasa bisa berada di podium bersama,” ungkap Widia dengan penuh semangat.

Bim dan Widia telah mengikuti tiga edisi PON, tetapi ini adalah kali pertama mereka berdiri di podium bersama. Momen ini semakin spesial karena mereka tak hanya berbagi medali, tetapi juga kebahagiaan di atas podium. Tidak lupa, mereka melayani permintaan para fotografer untuk berpose mesra, dengan Widia merangkul dan menempelkan kepala ke kepala suaminya sambil memamerkan medali yang baru saja mereka raih.

Satu Frekuensi dalam Panjat Tebing

Kehidupan pribadi dan profesional Bim dan Widia tidak bisa dipisahkan dari olahraga panjat tebing. Keduanya lahir di Bogor, Jawa Barat — Widia pada 5 Januari 1999 dan Bim pada 2 Desember 1993. Mereka bertemu dan saling mengenal di pelatihan daerah panjat tebing di Jabar pada tahun 2016. Setelah berpacaran selama empat tahun, mereka menikah pada 26 Februari 2022.

“Kami berdua berada dalam satu frekuensi, baik dalam olahraga maupun pandangan hidup. Meski sering berlatih bersama, tentu ada kalanya kami bertengkar. Namun, setelah latihan selesai, kami selalu berdamai dan kembali menikmati waktu bersama,” kata Widia, sembari tertawa kecil.

Bim menambahkan, “Sebagai pelatih di rumah, saya tentunya ingin yang terbaik untuk Widia. Kadang-kadang, ada tantangan dalam mengelola emosi, tetapi itu semua bagian dari perjalanan kami.”

Membuka Klub Panjat Tebing dan Rencana Masa Depan

Selepas PON Aceh-Sumut, Bim dan Widia berencana untuk beristirahat dan fokus pada proyek baru mereka — mendirikan klub panjat tebing. Mereka ingin membuka “climbing gym” untuk masyarakat umum, dengan harapan dapat memasyarakatkan olahraga panjat tebing dan menciptakan atlet-atlet baru.

“Jika ada rezeki, kami ingin mendirikan klub panjat tebing. Kami ingin membantu orang lain yang tertarik belajar panjat tebing dan mencetak atlet baru,” kata Widia.

Bim juga mendukung impian istrinya dan tengah mencari lokasi yang cocok untuk klub tersebut, yang kemungkinan besar akan berada di wilayah Jawa Barat.

Keduanya juga berencana untuk memulai program kehamilan setelah menikah, yang sempat tertunda karena persiapan mereka untuk PON Aceh-Sumut.

Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, juga memberikan dukungan terhadap upaya Bim dan Widia. Dia menyatakan bahwa olahraga panjat tebing semakin diminati masyarakat, dengan semakin banyak klub-klub yang bermunculan di berbagai daerah.

Dengan semangat dan dedikasi mereka, diharapkan Bim dan Widia tidak hanya akan menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda, tetapi juga berkontribusi dalam memajukan olahraga panjat tebing di Indonesia.

Related posts