Dunia Feminisme: Sejauh Mana Konsep Ini Diterima Secara Global?

Pexels.com

Feminisme sering dianggap sebagai gerakan yang telah mapan dan diterima secara luas di berbagai negara, terutama di kalangan negara maju dan berpenghasilan menengah atas. Namun, survei terbaru oleh Ipsos menunjukkan bahwa realitasnya jauh lebih kompleks. Hanya 39 persen responden dari 31 negara menyatakan diri mereka sebagai feminis, sementara 51 persen lainnya dengan tegas menolak label tersebut. Ketidaksetaraan gender, persepsi negatif terhadap feminisme, dan tantangan budaya serta ekonomi menjadi faktor yang membentuk pandangan masyarakat terhadap feminisme di berbagai belahan dunia.

Feminisme: Dukungan yang Masih Terbatas

Hasil survei Ipsos mengungkapkan bahwa hanya dua negara, India dan Spanyol, di mana mayoritas responden mengidentifikasi diri sebagai feminis. Meski kedua negara ini memiliki catatan campuran terkait hak-hak gender, dukungan terhadap feminisme relatif lebih tinggi dibandingkan negara lain. Jika hanya memperhitungkan jawaban dari responden perempuan, jumlah negara dengan mayoritas feminis meningkat menjadi tujuh, meskipun angka ini masih tergolong rendah.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kesenjangan gender dalam respons terhadap pertanyaan ini di beberapa negara, pada umumnya feminisme belum menjadi identitas yang universal. Banyak masyarakat masih melihat feminisme dengan skeptis, bahkan di negara-negara yang telah melakukan kemajuan signifikan dalam hak-hak perempuan.

Tantangan di Asia Timur: Resistensi dan Persepsi Negatif

Di Jepang dan Korea Selatan, feminisme menghadapi tantangan besar. Di Jepang, hanya 15 persen responden – baik pria maupun wanita – menyatakan diri sebagai feminis, sementara 61 persen menolak label tersebut. Hal ini mengindikasikan persepsi negatif yang kuat terhadap feminisme di negara tersebut. Korea Selatan, yang menempati posisi kedua terendah dalam survei ini, juga menunjukkan resistensi serupa.

Kedua negara ini sering menjadi sorotan karena kurangnya hak-hak perempuan dan pertumbuhan kelompok pria yang secara terbuka anti-feminisme, termasuk fenomena “incel” (involuntary celibates) yang semakin menguat di ranah daring. Sebuah artikel dari The Economist mencatat adanya reaksi balik terhadap feminisme, yang dipicu oleh keberhasilan perempuan di perguruan tinggi dan perubahan peran tradisional yang lambat namun pasti mulai memudar. Selain itu, survei tahun 2021 mengungkapkan bahwa 79 persen pria muda di Korea Selatan percaya bahwa mereka menjadi korban diskriminasi terbalik, sementara 43 persen pria muda di Jepang menyatakan bahwa mereka membenci feminisme.

Faktor Ekonomi dan Sosial yang Memperburuk Persepsi

Kesulitan ekonomi yang melanda negara-negara maju, terutama di Asia Timur, memperburuk persepsi terhadap feminisme. Banyak pria merasa bahwa kebijakan yang mendukung perempuan tidak adil di tengah tantangan ekonomi yang mereka hadapi. Selain itu, ketidakseimbangan jumlah pria dan wanita – akibat preferensi historis terhadap anak laki-laki – menciptakan tekanan tambahan dalam kehidupan pribadi dan profesional pria, seperti persaingan di tempat kerja dan kesulitan dalam membangun hubungan romantis.

Faktor-faktor ini sering kali memicu frustrasi, yang kemudian disalurkan melalui platform daring di mana budaya “incel” berkembang. Budaya ini tidak hanya memperburuk resistensi terhadap feminisme tetapi juga menciptakan narasi negatif yang semakin mengisolasi kelompok tertentu dari dialog produktif tentang kesetaraan gender.

Survei Ipsos memberikan gambaran yang menarik sekaligus memprihatinkan tentang bagaimana feminisme dipandang di berbagai negara. Meskipun ada beberapa negara yang menunjukkan dukungan lebih besar terhadap gerakan ini, resistensi yang signifikan di banyak negara, terutama di Asia Timur, menunjukkan bahwa masih ada jalan panjang menuju penerimaan universal terhadap feminisme. Tantangan budaya, ekonomi, dan sosial menjadi hambatan yang harus diatasi melalui pendekatan yang inklusif dan dialog yang konstruktif. Hanya dengan demikian, feminisme dapat berkembang menjadi gerakan yang tidak hanya dimengerti tetapi juga diterima secara luas sebagai bagian dari perjuangan menuju kesetaraan gender global.

Related posts