Hari Kedua Indonesia Summit 2025: Inklusi, Inovasi, dan Kolaborasi Lintas Generasi

Hari kedua Indonesia Summit 2025 di The Tribrata Darmawangsa kembali menghadirkan diskusi-diskusi inspiratif lintas sektor. Menghadirkan pemimpin pemerintahan, pakar industri, kreator, hingga talenta muda, sesi-sesi yang berlangsung menyoroti isu-isu strategis mulai dari kedaulatan pangan, literasi finansial, pengembangan SDM, hingga budaya pop digital.

Kedaulatan Pangan: Fondasi Pertumbuhan Ekonomi

Sesi pembuka bertajuk “Food Sovereignty for Economic Growth” menghadirkan Zulkifli Hasan, Santhi Serad, dan Normansyah Hidayat Syahruddin. Mereka menegaskan pentingnya kemandirian pangan untuk stabilitas ekonomi. Zulkifli Hasan menyoroti tingginya ketergantungan impor dan menekankan komitmen pemerintah dalam mendorong swasembada pangan melalui pemberdayaan masyarakat dan generasi muda.

Read More

Literasi Finansial dan Hidup Seimbang

Di sesi “Spend Wisely, Live Fully: The Frugal Formula for Financial Freedom”, Philip Mulyana dan Cinta Laura Kiehl berbagi strategi mencapai kebebasan finansial. Cinta Laura menekankan bahwa kesuksesan sejati bukan diukur dari kemewahan, melainkan dari kualitas hidup, kebebasan dari kecemasan, serta ruang untuk keluarga dan hobi.

Lapangan Kerja Inklusif dan Talenta Daerah

Panel “Unlocking Job Opportunities” bersama Prof. Yassierli, Rieke Diah Pitaloka, dan Willy Saelan menyoroti pentingnya lapangan kerja inklusif. Rieke mengingatkan Gen Z agar tidak menyerah pada tantangan, karena selalu ada harapan bagi yang berjuang.
Sementara itu, Putri Wulandari Hamid menegaskan potensi besar anak muda di kawasan timur Indonesia dalam sesi “Empowering Young Talent in Eastern Indonesia”. Menurutnya, akses pendidikan dan pelatihan adalah kunci lahirnya agen perubahan dari daerah.

Kreativitas, Inovasi, dan Konten Bermakna

Suasana summit dibuat cair dengan penampilan stand-up comedy dari Oki Rengga, yang menyelipkan kritik sosial dengan humor segar.
Di panggung Talent Trifecta by ICE, sesi “Viral or Valuable?” menghadirkan Keanu dan Guff Perdana. Mereka menekankan pentingnya konten yang bukan hanya viral, tetapi juga relevan dan autentik.

SDM, Wirausaha Digital, dan Penegakan Hukum

Panel “Human Capital Development” dengan Prof. Stella Christie, Lisa Qonita, dan Caroline Riady menegaskan bahwa investasi terbaik sebuah bangsa adalah pada manusianya melalui pendidikan dan pelatihan berkualitas.

Di sesi “Beyond the Balance Sheet”, Cherly Juno, Tyna Dwi Jayanti, dan Irflania Ramadhani Lubis berbagi pengalaman membangun bisnis digital dengan fokus pada dampak, bukan sekadar keuntungan.

Isu hukum turut dibahas dalam sesi “Building Trust in Justice” bersama Najwa Shihab dan Setyo Budiyanto. Najwa menekankan pentingnya transparansi dan konsistensi penegakan hukum, terutama dalam konteks kebebasan berekspresi.

Budaya Pop dan Kekuatan Fandom

Hari kedua ditutup dengan sesi “Fandom Revolution” bersama Ummi Quarry dan Niko Al-Hakim. Mereka membahas bagaimana fandom kini menjadi kekuatan ekonomi baru dan ruang ekspresi generasi muda.

Momentum Kolaborasi

Rangkaian sesi di hari kedua memperlihatkan betapa inklusi, inovasi, dan kolaborasi lintas generasi adalah kunci menuju Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan berdaya saing. Dari pangan, keuangan, dan SDM hingga budaya digital, diskusi ini menegaskan bahwa generasi muda memegang peranan vital dalam menata masa depan bangsa.

Related posts