Cara Mengurangi Konsumsi Makanan dan Minuman Manis pada Anak: Panduan Bertahap dari Ahli Gizi

Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, Guru Besar bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, mengungkapkan pentingnya pendekatan bertahap dalam mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis pada anak-anak.

Dalam wawancara dengan ANTARA, Prof. Ali menjelaskan bahwa pengurangan konsumsi gula harus dilakukan secara bertahap. “Jika anak yang terbiasa dengan makanan dan minuman manis dikurangi asupan gulanya secara mendadak, mereka bisa mengalami tantrum. Hal ini karena gula mempengaruhi tingkat energi dan suasana hati anak,” katanya, Senin (19/8).

Read More

Penurunan asupan gula yang tiba-tiba dapat menyebabkan anak merasa tidak nyaman, gelisah, dan mudah marah. Oleh karena itu, disarankan agar pengurangan gula dilakukan perlahan agar anak dapat beradaptasi tanpa stres berlebihan.

Prof. Ali menyarankan orang tua untuk mengurangi takaran gula dalam minuman anak sedikit demi sedikit dan memilih produk yang rendah gula ketika membeli minuman kemasan. “Untuk minuman yang dibuat sendiri, kurangi gula secara bertahap. Sedangkan untuk minuman kemasan, pilihlah yang memiliki label ‘less sugar’,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Ali menekankan bahwa kebiasaan konsumsi gula orang tua, khususnya ibu, sangat mempengaruhi pola konsumsi anak. “Orang tua, terutama ibu, harus meningkatkan pengetahuan tentang gizi untuk menjadi contoh yang baik dalam menerapkan pola makan sehat di rumah. Edukasi gizi di tingkat rumah tangga sangat penting,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan bahwa asupan gula yang dianjurkan untuk anak usia sekolah adalah sekitar 25 gram per hari. “Orang tua dapat memantau asupan gula dengan melihat label gizi pada makanan kemasan atau menghitung belanja gula per bulan di rumah tangga,” jelas Prof. Ali.

Dalam konteks yang lebih luas, meningkatnya kasus diabetes tipe 1 pada anak usia 12 hingga 18 tahun juga menjadi perhatian. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan kenaikan kasus diabetes tipe 1 sebesar 70 persen dari tahun 2010 hingga 2023, menekankan perlunya kesadaran dan tindakan preventif lebih lanjut.

Dengan pendekatan yang hati-hati dan edukasi yang tepat, diharapkan konsumsi gula pada anak dapat dikendalikan secara efektif, mendukung kesehatan mereka dalam jangka panjang.

Related posts