Pada tahun 2022, sekitar 48.800 perempuan dan anak perempuan diperkirakan tewas di tangan anggota keluarga atau pasangan intim mereka di seluruh dunia, menurut laporan terbaru dari PBB. Angka ini berarti lebih dari 133 perempuan atau anak perempuan dibunuh setiap hari oleh kerabat dekat mereka.
Meskipun lebih banyak pria yang menjadi korban pembunuhan secara keseluruhan, perempuan secara khusus sangat rentan terhadap kekerasan di rumah, mencatat 66 persen dari semua pembunuhan yang melibatkan pasangan intim. Fenomena tragis ini menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender masih menjadi isu yang serius dan meluas di seluruh dunia.
Kekerasan Berbasis Gender di Berbagai Belahan Dunia
Kekerasan terhadap perempuan terjadi di semua wilayah di dunia, tanpa pengecualian. Pada tahun 2022, Afrika mencatat jumlah tertinggi perempuan dan anak perempuan yang dibunuh oleh anggota keluarga atau pasangan, menggeser Asia yang sebelumnya berada di posisi pertama. Tingkat femisida di Afrika tercatat sebagai yang tertinggi, dengan 2,8 perempuan atau anak perempuan per 100.000 populasi perempuan menjadi korban.
Sementara itu, Asia berada di peringkat kedua secara absolut dengan 18.400 kasus pembunuhan perempuan dan anak perempuan pada tahun yang sama. Di Amerika, angka kematian ini mencapai 1,5 per 100.000 populasi perempuan. Data ini menunjukkan betapa luasnya cakupan masalah kekerasan berbasis gender di berbagai belahan dunia, meskipun tingkat dan jumlahnya berbeda-beda.
Perkembangan Femisida di Eropa Timur
Di Eropa Timur, tingkat pembunuhan terhadap perempuan masih tetap tinggi dibandingkan dengan bagian lain di wilayah tersebut, meskipun terjadi penurunan dari 1,1 korban per 100.000 perempuan pada tahun 2014 menjadi 0,9 korban per 100.000 perempuan pada tahun 2022.
Ini menunjukkan adanya sedikit kemajuan dalam mengurangi angka kekerasan berbasis gender, meskipun masalah tersebut masih memprihatinkan. Penurunan angka ini memperlihatkan bahwa dengan upaya yang tepat, kemungkinan untuk mengurangi angka kekerasan domestik dan femisida bisa dicapai, tetapi jalan untuk menuju hal tersebut masih panjang.
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Femisida
PBB mendefinisikan pembunuhan berbasis gender sebagai pembunuhan yang disengaja dengan alasan yang terkait dengan faktor gender. Faktor-faktor ini mencakup ideologi bahwa laki-laki memiliki hak atau kekuasaan lebih atas perempuan, norma sosial mengenai maskulinitas, dan kebutuhan untuk menegaskan kendali atau kekuasaan laki-laki, menegakkan peran gender, atau menghukum perilaku perempuan yang dianggap tidak dapat diterima. Kekerasan ini sering kali dipicu oleh keinginan untuk mempertahankan kendali atas perempuan, dan seringkali dianggap sebagai “hukuman” bagi perempuan yang dianggap melanggar norma-norma sosial.
Fenisida adalah salah satu bentuk kekerasan paling ekstrem yang dihadapi perempuan di seluruh dunia, terutama di lingkungan keluarga atau oleh pasangan intim. Data yang ada mungkin belum menggambarkan keseluruhan tragedi ini secara sempurna, namun tetap menunjukkan betapa mengkhawatirkannya fenomena ini.
Dengan peringatan Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan setiap tanggal 25 November, kita diingatkan bahwa perjuangan untuk menghentikan kekerasan berbasis gender masih jauh dari selesai. Dunia membutuhkan perubahan mendasar dalam cara kita melihat dan menangani kekerasan terhadap perempuan, agar tragedi seperti ini tidak terus terjadi.






