Di tengah arus informasi yang tak pernah berhenti—perang, krisis politik, inflasi, dan bencana global lainnya—banyak orang mulai merasa lelah secara mental. Banjirnya berita negatif, terutama di era doomscrolling seperti sekarang, bukan hanya membuat cemas, tapi juga membuat banyak orang memilih untuk memutus akses mereka dari berita sama sekali. Fenomena ini dikenal sebagai news avoidance, dan data menunjukkan bahwa jumlah orang yang melakukannya terus meningkat.
Menurut laporan terbaru dari Reuters Institute Digital News Report, rata-rata 40 persen responden dari 48 negara menyatakan bahwa mereka sering atau kadang-kadang secara aktif menghindari berita. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan tahun 2017, yang saat itu hanya berada di angka 29 persen. Lonjakan ini terjadi merata di seluruh wilayah, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, di mana lebih dari empat dari sepuluh responden mengaku sengaja membatasi konsumsi berita mereka demi menjaga kewarasan mental.
Dua Jenis Penghindar Berita: Dari yang Tak Peduli Hingga yang Terlalu Peduli
Laporan ini juga membedakan dua tipe utama penghindar berita. Pertama, konsisten menghindari berita, yaitu mereka yang memang sejak awal tidak punya minat terhadap berita. Kelompok ini umumnya memiliki latar pendidikan yang rendah dan merasa berita tidak relevan dengan kehidupan mereka. Mereka tidak tertarik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia karena merasa tidak ada manfaat langsung yang bisa diambil.
Tipe kedua disebut penghindar selektif, yakni kelompok yang sebenarnya melek informasi tapi kewalahan karena terlalu banyak berita buruk. Mereka menyaring informasi yang mereka konsumsi dan memilih untuk tidak membaca topik tertentu, seperti konflik politik, bencana alam, atau krisis global, karena merasa topik tersebut merusak suasana hati dan membuat stres. Bagi kelompok ini, menghindari berita adalah salah satu bentuk perawatan kesehatan mental.
Ketidakpercayaan pada Media Jadi Pemicu Utama
Selain faktor kelelahan mental, laporan ini juga menggarisbawahi bahwa tingkat kepercayaan yang rendah terhadap media menjadi salah satu alasan utama di balik penghindaran berita. Di era hoaks dan misinformasi yang makin merajalela, sebagian orang merasa sulit membedakan mana berita yang netral dan mana yang berpihak. Akibatnya, mereka memilih menjauh agar tidak terjebak dalam bias informasi yang memecah belah.
Ironisnya, semakin seseorang merasa tidak bisa mempercayai berita, semakin besar kemungkinan mereka untuk sepenuhnya menutup diri dari perkembangan dunia. Padahal, di saat yang sama, informasi yang akurat dan terpercaya sangat dibutuhkan agar masyarakat bisa membuat keputusan yang tepat. Ini jadi tantangan tersendiri bagi industri media untuk bisa tetap relevan dan dipercaya, tanpa mengorbankan kesehatan mental para pembacanya.
Menghindari Bukan Berarti Tidak Peduli
Meski terlihat seperti sikap apatis, menghindari berita tidak selalu berarti tidak peduli. Dalam banyak kasus, ini adalah bentuk perlindungan diri dari tekanan informasi yang berlebihan. Masyarakat kini mulai menyadari bahwa terlalu banyak mengetahui sesuatu bisa menjadi beban, dan memilih untuk lebih selektif dalam mengonsumsi informasi adalah pilihan sadar yang patut dihormati.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana media bisa beradaptasi dengan pola konsumsi ini—menyajikan berita yang tetap informatif, jujur, tapi juga ramah bagi kesehatan mental. Karena pada akhirnya, kita semua butuh tahu apa yang terjadi di dunia, tapi tidak harus sampai kehilangan ketenangan demi mengetahuinya.






