Grup musik indie Indonesia, Barasuara, kembali memukau penggemar dengan merilis album ketiga mereka yang berjudul “Jalaran Sadrah” hari ini. Album ini menandai langkah baru bagi Barasuara setelah 12 tahun berkarier di dunia musik Indonesia.
Dalam album yang berisi sembilan lagu ini, Barasuara menampilkan keberagaman musikalitas mereka dengan menggabungkan berbagai genre dan inspirasi. Tiga lagu tunggal yang lebih dulu dirilis, yaitu “Terbuang dalam Waktu”, “Merayakan Fana”, dan “Fatalis”, menjadi pengantar bagi album ini yang dipenuhi dengan lirik-lirik mendalam.
Proses pembuatan album dimulai sejak Januari 2021, di mana para personel Barasuara berkumpul di sebuah vila di Puncak, Bogor. Mereka tidak hanya menulis lagu-lagu baru, tetapi juga mengembangkan materi yang sudah ada dengan menggandeng berbagai elemen baru seperti aransemen orkestra dari Erwin Gutawa untuk beberapa lagu yang dieksekusi oleh Czech Symphony Orchestra.
“Ide dan inspirasi untuk ‘Jalaran Sadrah’ datang dari peristiwa-peristiwa penting belakangan ini, seperti pandemi COVID-19 dan konflik Israel-Palestina. Album ini adalah bentuk pasrah dari kami terhadap apa yang terjadi,” ujar Iga Massardi, vokalis sekaligus gitaris utama Barasuara.
Selain itu, album ini juga menampilkan kolaborasi yang lebih erat antara anggota band, dengan masing-masing membawa warna dan kontribusi unik. “Ini adalah album paling kolektif yang pernah kami buat. Setiap lagu memiliki cerita dan nuansa tersendiri, dari lirik yang lembut hingga aransemen yang menggugah,” tambah Gerald Situmorang, pemain bass.
Dengan rilisnya “Jalaran Sadrah”, Barasuara tidak hanya ingin mempertahankan eksistensi mereka di industri musik tanah air, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka tetap mampu berinovasi dan berkarya di tengah dinamika zaman. Album ini memperlihatkan kedewasaan dalam penciptaan musik serta kedalaman dalam pengekspresian emosi dan pemikiran.
“Kami percaya bahwa setiap lagu dalam album ini adalah bukti bahwa Barasuara masih relevan dan memiliki sesuatu yang berbeda untuk ditawarkan kepada pendengar,” kata TJ Kusuma, gitaris sekaligus produser dalam band ini.
“Jalaran Sadrah” tidak hanya menjadi simbol keberanian Barasuara untuk bereksperimen, tetapi juga kesaksian bahwa mereka masih mampu menciptakan karya-karya yang mendalam dan berarti bagi pendengar mereka. Album ini tersedia untuk dinikmati melalui platform musik digital dan CD di seluruh Indonesia mulai hari ini.






