Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Universitas Indonesia, dr. Donny Yugo Hermanto Sp.JP (K), mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kelainan irama jantung yang tersembunyi saat melakukan aktivitas fisik, termasuk berolahraga. Hal ini menjadi sorotan setelah kasus tragis kematian atlet pebulu tangkis asal China, Zhang Zhi Jie, yang meninggal dunia di lapangan saat bertanding di BNI Badminton Asia Junior Championships 2024 di Yogyakarta.
Menurut dr. Donny, kelainan irama jantung seringkali tidak terdeteksi dalam pemeriksaan jantung standar dan dapat menyebabkan kondisi mendadak seperti henti jantung, bahkan pada atlet profesional sekalipun. “Atlet profesional pun bisa mengalami henti jantung jika mereka memiliki kelainan irama jantung yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan biasa,” ujarnya dalam keterangan kepada ANTARA.
Untuk mengantisipasi risiko ini, dr. Donny menyarankan agar orang-orang yang berisiko tinggi, seperti yang memiliki riwayat keluarga dengan kematian mendadak atau sering merasakan pingsan tanpa sebab yang jelas, untuk melakukan pemeriksaan khusus. “Pemeriksaan seperti uji provokasi dan studi listrik dapat membantu mendeteksi kelainan irama jantung yang mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan rutin,” tambahnya.
Selain itu, bagi masyarakat umum maupun atlet, penting untuk mengetahui kapasitas jantung mereka saat berolahraga. Dr. Donny merekomendasikan penggunaan Cardio Pulmonary Exercise Testing (CPET) yang tersedia di beberapa rumah sakit sebagai metode terbaik untuk menilai kapasitas jantung secara lebih mendalam.
“Saat berolahraga, penting untuk memperhatikan tanda-tanda seperti kelelahan berlebihan, nyeri dada, sesak napas, dan pandangan gelap yang bisa mengindikasikan risiko henti jantung,” paparnya. Jika seseorang mengalami henti jantung di sekitar kita, dr. Donny menyarankan untuk segera memberikan bantuan pertolongan pertama dengan memeriksa kesadaran, memanggil bantuan medis, dan melakukan kompresi dada dengan frekuensi yang tepat.
Untuk meningkatkan kesadaran akan penanganan darurat seperti ini, pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) tersedia untuk masyarakat umum. Ini bisa diikuti melalui program yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) dan penyedia pelatihan lainnya secara berkala.
Pentingnya pemahaman dan kewaspadaan ini diharapkan dapat mengurangi risiko insiden serius seperti henti jantung yang terjadi saat berolahraga.






