Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno memberikan apresiasi tinggi kepada film “Uang Panai 2” dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Makassar pada Kamis (3/8). Film ini merupakan kolaborasi antara Finisia, Rumpi Entertainment, dan 786 Production yang menggambarkan perjuangan seorang pria dalam mengumpulkan uang mahar atau ‘panai’.
Dalam sambutannya yang disampaikan secara virtual, Sandiaga Uno menilai bahwa “Uang Panai 2” berhasil mengangkat persoalan budaya dengan cara yang segar dan tetap mempertahankan esensi cerita mengenai usaha calon mempelai pria dalam memenuhi mahar. “Film ini tidak hanya menyajikan cerita yang menarik tetapi juga menunjukkan kekayaan budaya yang berakar dari tradisi Bugis-Makassar,” ungkap Sandiaga.
Sutradara film “Uang Panai 2”, Ihdar Nur, menyampaikan rasa syukurnya atas apresiasi yang diberikan oleh Menparekraf. Ia menambahkan bahwa film ini merupakan contoh nyata dari kreativitas generasi muda Sulawesi Selatan yang berhasil membawa produk lokal ke panggung nasional. “Kehadiran film ini adalah langkah penting bagi industri kreatif kita untuk dikenal secara luas,” ujar Ihdar.
Cerita dalam “Uang Panai 2” melanjutkan kisah Iccang, seorang calon mempelai pria yang menghadapi tantangan besar untuk memenuhi uang mahar sebesar Rp200 juta demi melanjutkan hubungannya dengan pacarnya, Icha. Dalam usahanya, Iccang menemukan “Pattumbu”, perusahaan konsultasi uang panai yang didirikan oleh Tumming dan Abu, karakter yang sebelumnya membantu dalam film pertama. Ini memberikan inovasi cerita yang berbeda dari film sebelumnya.
Penulis skenario, Elvin Miradi, menjelaskan bahwa film ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang budaya uang panai. “Film ini menggambarkan bagaimana uang panai, sebagai tradisi leluhur Bugis-Makassar, mendorong kemandirian dan etos kerja bagi pria sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap wanita,” kata Elvin.
“Uang Panai 2” diharapkan dapat menginspirasi dan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan industri film dan budaya lokal, sambil memperkuat apresiasi terhadap nilai-nilai budaya yang kaya dari masyarakat Bugis-Makassar.






