Teknologi Cetak 3D: Mengurangi Kesulitan Bagi Kaum Disabilitas

Teknologi cetak tiga dimensi (3D printing) mendapatkan sorotan baru karena potensinya dalam mengurangi kesenjangan akses bagi kaum disabilitas. Dengan inovasi yang tepat, teknologi ini dapat menjadi solusi yang inklusif, memungkinkan individu dengan keterbatasan mobilitas untuk tetap produktif dan mendapatkan akses yang setara pada ruang kerja.

Kolaborasi antara Evolusi 3D, Bhinneka Prostetik, dan Tutur Daya telah mendorong berbagai pihak untuk bersatu dalam menciptakan karya-karya inovatif. Tujuan mereka adalah membantu orang-orang dengan keterbatasan mobilitas agar dapat tetap berkarya secara produktif. Ketua Umum Asosiasi Printridi, Eric Rudolf Thedjasurya, menjelaskan bahwa inklusi dapat terwujud melalui inovasi yang tepat.

Program Equibility: Equity for Disability Through Innovation, yang didukung oleh Organisasi Junior Chamber Internasional (JCI), Universitas Mercu Buana, dan Asosiasi Penerap Printer Tri Dimensi Indonesia (Printridi), menjadi langkah nyata dalam mendukung inklusi bagi kaum disabilitas. Eric menekankan pentingnya kolaborasi lintas bidang untuk menciptakan solusi inovatif yang dapat mengubah kehidupan orang lain secara positif.

Sekjen Printridi, Wisnu Arya Permadi, menyoroti anggapan umum bahwa produk 3D printing hanya sebatas prototipe. Namun, fakta menunjukkan bahwa produk cetak tiga dimensi telah merambah berbagai sektor, termasuk alat kesehatan untuk membantu kaum disabilitas.

Local President JCI Jakarta 2024, Satria Ramadhan, menegaskan bahwa Program Equibility sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-10, yaitu Mengurangi Kesenjangan Intra dan Antar Negara. Program ini bertujuan untuk menciptakan Indonesia yang inklusif, di mana setiap individu, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang.

Program Equibility, yang diluncurkan di Jakarta pada akhir Mei lalu, juga menyelenggarakan workshop bersama para ahli di bidang 3D printing. Ini merupakan langkah konkret untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan teknologi cetak 3D dalam membantu kaum disabilitas.

Joko Suliyarto, pemilik Bhinneka Prostetik, mengungkapkan potensi besar teknologi 3D scan dan 3D print dalam pembuatan kaki prostesis yang profesional. Sedangkan Faizal Rezky Dhafin, Direktur PT Rekayasa Teknologi Medis Indonesia, menyoroti kemajuan dalam pembuatan tangan palsu yang fungsional. Meskipun masih ada tantangan teknis, seperti sistem gerak yang bersifat mekanikal, namun inovasi terus dikejar untuk meningkatkan fungsionalitas produk prostetik.

Dengan kolaborasi dan inovasi yang terus berkembang, teknologi cetak 3D memiliki potensi besar untuk mengurangi kesenjangan akses bagi kaum disabilitas, memungkinkan mereka untuk tetap berkarya dan berkontribusi secara maksimal dalam masyarakat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *