Setiap tahun, tanggal 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Tema tahun ini, ‘Mengubah Narasi Tentang Bunuh Diri’, mendorong kita untuk berpikir ulang tentang cara kita memandang masalah yang kompleks ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya beralih dari budaya diam dan stigma menuju keterbukaan, pemahaman, dan dukungan. Data dari berbagai negara menunjukkan betapa mendesaknya isu ini untuk diatasi, terutama di tengah perbedaan tingkat bunuh diri antarnegara.
Tingkat Bunuh Diri di Negara-Negara OECD
Menurut data yang dikumpulkan dari negara-negara OECD, angka bunuh diri di beberapa negara menunjukkan perbedaan yang signifikan. Di Amerika Serikat, misalnya, sekitar 23 dari setiap 100.000 pria meninggal karena bunuh diri pada tahun 2021, sementara pada wanita angka ini lebih rendah, yaitu sekitar 6 per 100.000. Meski angka ini sudah cukup tinggi, negara lain seperti Korea Selatan, Lithuania, dan Hongaria menunjukkan prevalensi bunuh diri yang lebih besar lagi.
Di Korea Selatan, terdapat 34,9 kasus bunuh diri per 100.000 pria dan di Lithuania angka tersebut mencapai 33,1 kasus. Ketimpangan ini menggambarkan bagaimana tekanan sosial dan ekonomi, serta faktor kesehatan mental, dapat mempengaruhi kelompok pria lebih besar di beberapa negara.
Perbedaan Antara Pria dan Wanita dalam Angka Bunuh Diri
Salah satu pola yang konsisten di seluruh dunia adalah tingginya angka bunuh diri di kalangan pria dibandingkan wanita. Ini terlihat jelas di banyak negara, termasuk Korea Selatan dan Jepang, di mana angka bunuh diri pada wanita juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara lain. Korea Selatan memiliki 15,2 kasus bunuh diri per 100.000 wanita, sementara Jepang mencatat 10,2 kasus.
Meskipun demikian, angka pada pria tetap lebih tinggi. Fenomena ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang peran gender dalam menghadapi masalah kesehatan mental dan akses terhadap bantuan yang diperlukan. Penting untuk memahami bahwa banyak faktor yang berkontribusi pada perbedaan ini, termasuk tekanan sosial, stigma seputar kesehatan mental, dan akses terhadap dukungan emosional.
Bunuh Diri di Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah
Walaupun data OECD memberikan gambaran penting, bunuh diri tidak terbatas hanya pada negara-negara berpenghasilan tinggi. WHO mencatat bahwa wilayah Afrika memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di dunia, dengan 11,2 kasus per 100.000 orang pada tahun 2019, melampaui rata-rata global sebesar 9,0 per 100.000. Di Lesotho, angka bunuh diri bahkan mencapai 87,5 per 100.000, salah satu yang tertinggi di dunia.
Situasi ini semakin diperparah oleh kurangnya data yang akurat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang mengakibatkan underreporting. WHO menekankan bahwa 77 persen kasus bunuh diri di dunia terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, menunjukkan bahwa isu ini adalah masalah global yang memerlukan perhatian lintas batas negara.
Nomor Darurat untuk Konseling Pencegahan Bunuh Diri
Apabila kamu mengetahui seseorang atau mungkin diri kamu sendiri terlintas untuk melakukan bunuh diri, pencegahan dapat dilakukan dengan meminta bantuan profesional. Salah satunya dengan menghubungi nomor darurat. Beberapa nomor yang bisa kamu hubungi adalah sebagai berikut.
1. Layanan 119
2. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi, Bogor 0251-8310611
3. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) 021-7207372
Angka bunuh diri yang tinggi di berbagai negara, baik di negara maju maupun berkembang, menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang kita hadapi. Namun, dengan meningkatkan pemahaman dan keterbukaan tentang kesehatan mental, kita dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk mengubah narasi seputar bunuh diri. Mendorong percakapan yang lebih mendalam, mengurangi stigma, dan memberikan dukungan yang tepat adalah langkah penting dalam menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan.






