Setelah kematian tragis Mahsa Amini pada September 2022, topik tentang aturan hijab di Iran semakin menjadi sorotan. Kematian Amini, yang terjadi setelah ia ditahan oleh polisi moral Iran karena diduga mengenakan hijabnya dengan tidak benar, memicu gelombang protes besar-besaran di seluruh negeri. Hampir dua tahun berlalu sejak peristiwa tersebut, namun ketegangan mengenai hijab masih terus memanas di tengah masyarakat Iran. Berdasarkan survei terbaru, sebagian besar warga Iran menentang aturan ketat pemerintah terkait hijab.
Penolakan Terhadap Hukuman Ketat
Menurut survei yang dilakukan oleh Stasis Consulting, sebuah firma riset opini asal Amerika Serikat, sebanyak 70% warga Iran menolak hukuman keras seperti denda atau penjara bagi perempuan yang tidak mengenakan hijab di tempat umum. Ini mencerminkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap pendekatan represif yang diterapkan oleh polisi moral.
Sebanyak 47% responden secara tegas tidak setuju dengan cara polisi moral memperlakukan perempuan yang melanggar aturan hijab, sementara 8% lainnya juga merasa tidak nyaman, meskipun tidak secara tegas menentang. Sebaliknya, 37% responden masih setuju, setidaknya sebagian, dengan pendekatan yang ada saat ini. Hasil ini menunjukkan bahwa meski mayoritas warga Iran merasa aturan tersebut terlalu ketat, masih ada sebagian yang mendukung penerapannya.
Opsi Hijab: Pilihan atau Kewajiban?
Ketika ditanya mengenai apakah hijab seharusnya menjadi pilihan pribadi atau tetap diwajibkan, hasil survei menunjukkan adanya perpecahan di masyarakat. Sebanyak 55% responden percaya bahwa pemakaian hijab seharusnya bersifat opsional, memberikan kebebasan bagi setiap perempuan untuk memilih sendiri apakah mereka ingin mengenakannya atau tidak.
Sebaliknya, 43% responden masih berpendapat bahwa hijab harus tetap diwajibkan sesuai dengan aturan yang ada. Meskipun lebih dari setengah populasi mendukung kebebasan dalam berpakaian, masih ada persentase signifikan yang merasa hijab seharusnya tetap menjadi kewajiban.
Protes Terhadap Polisi Moral dan Implikasinya
Kematian Mahsa Amini bukan hanya tentang hijab, tetapi juga menyuarakan ketidakpuasan yang lebih dalam terhadap kekerasan polisi dan penindasan terhadap perempuan di Iran. Protes yang dipimpin oleh perempuan dan anak muda terus berlanjut, memperjuangkan kebebasan individu serta keadilan sosial. Aksi protes ini memakan korban, dengan ratusan orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya ditangkap.
Perlawanan terhadap polisi moral mencerminkan ketegangan yang semakin dalam antara kebijakan pemerintah dan tuntutan masyarakat untuk perubahan. Meskipun ada sebagian masyarakat yang masih mendukung aturan hijab, perpecahan yang muncul semakin memperlihatkan ketidakpuasan publik yang terus meningkat.
Di tengah ketegangan yang terus berlangsung, survei ini menyoroti bahwa sebagian besar warga Iran tidak lagi mendukung hukuman keras terkait aturan hijab. Masyarakat semakin terbagi, dengan mayoritas mendukung kebebasan dalam memilih pakaian. Kematian Mahsa Amini menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan, dan meskipun perpecahan masih ada, gelombang perubahan di Iran tampaknya semakin kuat. Masyarakat kini menuntut kebebasan lebih dalam menjalani kehidupan mereka, terutama bagi kaum perempuan yang selama ini terbelenggu oleh aturan yang ketat.






