Film terbaru karya Wregas Bhanuteja berjudul Para Perasuk hadir dengan konsep unik yang memadukan drama, budaya, dan sentuhan supernatural. Dibintangi oleh Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan, hingga Anggun C. Sasmi, film ini menawarkan pengalaman berbeda dari genre horor pada umumnya.
Alih-alih mengandalkan jumpscare, Para Perasuk justru mengeksplorasi fenomena kerasukan roh hewan dalam balutan drama yang sarat makna sosial dan budaya.
Sinopsis Para Perasuk
Kisah berpusat di Desa Latas, sebuah desa dengan tradisi unik bernama Pesta Sambetan. Ritual ini memungkinkan warga “kerasukan” roh hewan untuk memasuki dunia halusinasi yang menghadirkan rasa bahagia dan kenikmatan.
Setiap roh memiliki karakter berbeda dalam menyalurkan emosi tersebut. Karena itu, para perasuk harus benar-benar fokus agar bisa “mengalirkan” sensasi itu kepada para pelamun—sebutan bagi warga yang mengikuti ritual ini.
Tokoh utama Bayu (Angga Yunanda) adalah pemuda desa yang bercita-cita menjadi perasuk utama di sanggar pusat. Sebelumnya, ia hanya berperan sebagai asisten di sanggar kecil.
Namun ambisinya diuji saat desa mereka terancam oleh perusahaan besar yang ingin menggusur lahan, termasuk mata air keramat yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh-roh tersebut.
Di tengah ancaman tersebut, Guru Asri (Anggun) merencanakan Pesta Sambetan besar sebagai upaya mengumpulkan dana demi mempertahankan desa.
Bayu semakin terobsesi menjadi perasuk utama demi menyelamatkan kampung halamannya. Ia berlatih keras bersama Laksmi (Maudy Ayunda), seorang pelamun dari Jakarta yang sedang berusaha pulih dari trauma masa lalu.
Namun, ambisi Bayu justru menjadi bumerang. Ia mulai mengabaikan lingkungan sekitar dan terobsesi mendapatkan roh tingkat tertinggi. Ketika akhirnya berhasil, ia malah kehilangan kemampuan untuk menyalurkan “rasa bahagia” kepada para pelamun.
Konflik pun tak terhindarkan—baik dengan orang-orang terdekat maupun dengan dirinya sendiri.
Menariknya, Para Perasuk tidak hanya menghadirkan elemen mistis, tetapi juga kritik sosial tentang kekuasaan, eksploitasi, dan hilangnya nilai-nilai tradisi.
Wregas menghadirkan sekitar 20 jenis “roh hewan” yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Meski begitu, Desa Latas dan Pesta Sambetan sepenuhnya merupakan fiksi.
Pemeran dan Jadwal Tayang
Selain jajaran nama besar, film ini juga menjadi debut layar lebar bagi Anggun C. Sasmi.
Para Perasuk telah melakukan world premiere di Sundance Film Festival 2026 dan mendapat respons positif dari kritikus.
Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.
Dengan cerita yang unik, visual mistis, dan konflik emosional yang kuat, Para Perasuk jadi salah satu film Indonesia yang wajib masuk watchlist—terutama buat kamu yang mencari tontonan berbeda dari horor mainstream.






