Bijak Bermedia Sosial untuk Hindari “FOMO” dan Dampak Negatifnya

Kota-kota besar di Indonesia tengah heboh dengan tren gantungan kunci berbentuk boneka monster bernama “Labubu.” Boneka yang digagas seniman asal Hong Kong, Kasing Lung, ini viral setelah dipromosikan oleh Lisa dari grup K-pop Blackpink, membuat masyarakat rela antre berjam-jam untuk mendapatkannya.

Harga gantungan kunci ini mencapai ratusan ribu rupiah, membuatnya menjadi rebutan dari anak-anak hingga orang dewasa. Banyak yang merasa bangga jika memiliki lebih dari satu, yang sering kali dipamerkan di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Namun, fenomena ini juga membawa dampak negatif, terutama bagi anak-anak yang merasa tertekan untuk memiliki barang tersebut demi menjaga status sosial di kalangan teman-temannya.

Read More

Ketua Umum Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia, Fajar Eri Dianto, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan dampak dari fear of missing out (FOMO), di mana individu merasa takut ketinggalan momen penting di media sosial. FOMO dapat menyebabkan perilaku konsumtif yang berlebihan dan tekanan sosial yang tidak sehat.

Dampak negatif dari penggunaan media sosial berlebihan juga berpengaruh pada kesehatan mental, terutama di kalangan remaja. Psikolog klinis Kasandra Putranto menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan. Ia mengingatkan bahwa stres yang ditimbulkan oleh media sosial dapat memperburuk gangguan kecemasan dan memicu perbandingan sosial yang merugikan.

Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan keamanan siber Kaspersky memberikan saran untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan ruang digital. Pengaturan privasi yang tepat dan membatasi koneksi dengan orang-orang yang dikenal dapat membantu mengurangi risiko interaksi negatif dan konten berbahaya.

“Media sosial bisa mendatangkan kebaikan atau keburukan. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk mengedepankan unggahan positif dan membangun lingkungan daring yang aman dan mendukung,” ujar Anna Larkina, pakar analisis konten di Kaspersky.

Dengan memahami dampak dari FOMO dan mengelola interaksi di media sosial secara bijak, diharapkan masyarakat dapat menikmati pengalaman online yang lebih positif dan sehat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *