Kebebasan pers merupakan pilar penting dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas di setiap negara. Namun, laporan terbaru World Press Freedom Index 2024 yang dirilis oleh Reporters Without Borders (RSF) menunjukkan adanya tren penurunan yang mengkhawatirkan dalam dukungan terhadap otonomi media. Tekanan yang meningkat dari aktor politik, disinformasi, dan propaganda menjadi isu utama yang dihadapi banyak negara di dunia saat ini.
Penurunan Dukungan terhadap Otonomi Media
Salah satu poin utama dalam laporan RSF 2024 adalah penurunan dukungan terhadap otonomi media dan kebebasan pers di seluruh dunia. Dari lima indikator yang digunakan untuk menyusun peringkat kebebasan pers, indikator politik mengalami penurunan paling signifikan dengan rata-rata global turun 7,6 poin. Dari 180 negara dan wilayah yang dianalisis, sebanyak 138 negara mencatat bahwa aktor politik di negaranya terlibat dalam kampanye disinformasi atau propaganda. Bahkan di 31 negara, keterlibatan politik ini digambarkan sebagai “sistematis,” yang menyoroti betapa seriusnya dampak disinformasi terhadap kebebasan pers.
Pelanggaran terhadap Jurnalis di Wilayah Konflik
Laporan ini juga menyoroti kurangnya kemauan politik pada tingkat internasional untuk melindungi jurnalis, terutama di wilayah-wilayah konflik. Salah satu contoh terburuk adalah perang di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Sejak saat itu, tercatat lebih dari 100 jurnalis Palestina tewas, termasuk 22 orang yang meninggal saat menjalankan tugas jurnalistik mereka. Pelanggaran terhadap jurnalis dan media ini mencatat rekor tertinggi, menunjukkan bahaya yang dihadapi para jurnalis di wilayah yang dilanda konflik. Situasi ini menunjukkan perlunya tindakan global yang lebih kuat untuk melindungi kebebasan pers di wilayah-wilayah berisiko tinggi.

Tren Global Kebebasan Pers
Secara umum, laporan World Press Freedom Index 2024 menunjukkan bahwa 36 negara masuk dalam kategori “situasi sangat serius” dalam hal kebebasan pers. Sebanyak 49 negara berada dalam kategori “sulit” dan 50 negara dalam kelompok “bermasalah.” Namun, ada 45 negara yang berhasil mempertahankan situasi “baik” atau “memuaskan” dalam hal kebebasan pers. Norwegia kembali menempati peringkat pertama selama delapan tahun berturut-turut, diikuti oleh Denmark dan Swedia. Di sisi lain, Afghanistan, Suriah, dan Eritrea menempati posisi terbawah sebagai negara dengan kebebasan pers paling represif. Eritrea dan Suriah bahkan digambarkan sebagai “zona tanpa hukum” bagi media, dengan jumlah jurnalis yang ditahan, hilang, atau disandera yang mencatat rekor tinggi.
Amerika Serikat, yang menempati posisi ke-55 pada tahun 2024, mengalami penurunan 10 posisi dari tahun sebelumnya. RSF mencatat bahwa ketidakpercayaan terhadap media semakin tumbuh di Amerika Serikat, dipicu oleh antagonisme dari pejabat politik dan beberapa kasus penyerbuan ruang redaksi oleh penegak hukum lokal.
Laporan World Press Freedom Index 2024 menunjukkan bahwa kebebasan pers di seluruh dunia sedang menghadapi tantangan serius, dengan tekanan dari aktor politik dan disinformasi yang merusak otonomi media. Meskipun masih ada beberapa negara yang mempertahankan tingkat kebebasan pers yang baik, banyak negara lainnya justru mengalami penurunan. Dengan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh media, diperlukan upaya global yang lebih besar untuk melindungi jurnalis dan memperjuangkan kebebasan pers di seluruh dunia.






