Di balik tatapan polos dan senyum tipis seorang anak bernama Abdullah Gaza, tersimpan kisah kehilangan yang mendalam. Bocah delapan tahun ini harus menelan kenyataan pahit: kehilangan sang ayah, seorang relawan kemanusiaan yang gugur usai menjalankan misi terakhirnya di Palestina. Kepergian ayahnya bukan hanya merenggut sosok pelindung, tapi juga arah hidup Gaza yang masih rapuh.
Gaza kemudian diasuh di sebuah panti asuhan sederhana yang dikelola oleh Ustazah Dewi dan adiknya, Rafa Syafira. Di tempat itu, ia dipertemukan dengan Hayya, seorang gadis kecil asal Palestina yang telah empat tahun menjadi pengungsi di Indonesia. Di balik sikap pendiamnya, Hayya menyimpan luka akibat genosida yang memaksanya meninggalkan tanah kelahiran.
Pertemuan Gaza dan Hayya bermula dalam diam, namun perlahan tumbuh menjadi persahabatan yang menghangatkan. Gaza, dengan kepolosannya, membawa tawa dan harapan kecil bagi Hayya. Sementara Hayya mengisi kekosongan hati Gaza yang ditinggal ayahnya. Keduanya saling menjadi pelipur luka.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ancaman baru datang menghantui mereka, membawa kembali rasa takut dan ketidakpastian. Gaza dan Hayya dipaksa menghadapi kenyataan pahit, sekaligus mencari makna sejati dari keluarga, keberanian, dan pengorbanan.
Gaza Hayya 3 bukan sekadar film tentang kehilangan, tapi juga tentang harapan—tentang anak-anak yang tumbuh dari reruntuhan dan terus bermimpi di tengah dunia yang porak poranda.
Film ini menjadi pengingat bahwa di balik konflik yang tak kunjung usai, ada jiwa-jiwa kecil yang menanti masa depan. Dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 12 Juni 2025, Gaza Hayya 3 adalah ajakan untuk lebih peduli, lebih manusiawi.






