Cerita Manis Berulang Bersama Sorakan Lantang Anak Dewa Inner Circle

Kandang Pelita Jaya mungkin dipenuhi warna tuan rumah, namun setiap kali menghadapi Dewa United Banten dalam beberapa musim terakhir, selalu ada satu elemen yang tak pernah absen, yakni suara lantang dari Anak Dewa Inner Circle.

Dalam rentang dua musim, DUB mencatatkan tiga kemenangan penting di markas PJ. Dua di antaranya hadir pada Final IBL 2025, dan satu lainnya datang di musim reguler IBL 2026.

Cerita itu bukan sekadar berulang, tapi terus berkembang.

Di final IBL 2025, Dewa United sempat berada di posisi sulit setelah kalah di Game 1 di Dewa United Arena. Namun, #AnakDewa bangkit di GOR Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro (GMSB). Game 2 berhasil diamankan dengan skor 80-75, sebelum drama mencapai puncaknya di laga penentuan.

Pada game 3, Dewa United menunjukkan mental juara. Sempat tertinggal hingga 12 poin di pertengahan kuarter keempat, Anak Dewa perlahan memangkas jarak, membalikkan keadaan, dan akhirnya mengunci kemenangan dramatis 74-73, sekaligus memastikan gelar juara pertama dalam sejarah klub.

Momen itu menjadi titik awal sebuah narasi bahwa kandang lawan bukan tempat yang asing. Musim ini, cerita yang sama kembali hadir dengan nuansa berbeda.

Jika musim lalu kemenangan diraih lewat drama dan comeback, maka di musim reguler IBL 2026, Dewa United tampil lebih dominan. Sepanjang pertandingan, #AnakDewa tidak pernah berada dalam posisi tertinggal, memimpin sejak awal hingga akhir laga, dan menjaga kontrol permainan selama empat kuarter penuh.

Namun, rivalitas ini tidak hanya dibangun dari apa yang terjadi di dalam lapangan.

Di tengah dominasi suporter tuan rumah, suara Anak Dewa Inner Circle tetap terdengar jelas, bahkan hingga ke live streaming. Chant yang konsisten, ritme dukungan yang tak terputus, menjadi energi tambahan bagi para pemain.

Di ruang digital, dinamika yang sama juga terasa. Kolom komentar live streaming hingga media sosial menjadi arena interaksi antara Anak Dewa dan PJ Holics. Dukungan, respons, hingga saling balas komentar hadir sebagai bagian dari ‘psywar’ modern yang tetap berada dalam koridor sportif.

Namun pada akhirnya, rivalitas ini selalu menemukan jalan keluar yang sama. Rivalry on court, friendship off court.

Rivalitas hanya berlangsung selama 40 menit di lapangan. Setelah itu, yang tersisa adalah rasa hormat, kebersamaan, dan silaturahmi yang tetap terjaga antar suporter.

Ketegangan berubah menjadi tawa, perdebatan menjadi cerita, dan pertandingan berakhir dengan suasana yang hangat. Semua berakhir dengan manis.

Rivalitas dengan Pelita Jaya pun kini bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi tentang bagaimana dua basis suporter besar bisa sama-sama menunjukkan passion, loyalitas, dan kedewasaan dalam mendukung tim mereka.

Dan di setiap babak cerita itu, selalu ada satu elemen yang konsisten, yaitu sorakan yang tetap lantang, bahkan di tengah dominasi lawan.

Karena bagi Anak Dewa, kandang lawan hanyalah tempat bukan batas!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *