Jokowi Soroti Masalah Perizinan Event: Indonesia Ketinggalan Konser Taylor Swift

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan keprihatinannya terhadap kesulitan dalam proses perizinan penyelenggaraan event di Indonesia yang menyebabkan negara ini kehilangan kesempatan untuk menjadi tuan rumah konser-konser besar internasional. Pernyataan ini muncul setelah Indonesia tidak dapat menyelenggarakan konser Taylor Swift, salah satu penyanyi pop terbesar dari Amerika Serikat.

Dalam acara Peluncuran Digitalisasi Layanan Perizinan Penyelenggaraan Event di Jakarta pada Senin kemarin, Jokowi mengungkapkan kekecewaannya bahwa Indonesia kalah cepat dibandingkan Singapura dalam menarik penyelenggaraan konser internasional seperti Taylor Swift. Konser Taylor Swift yang baru-baru ini digelar di Singapura berhasil menarik ratusan ribu penggemar, di antaranya banyak berasal dari Indonesia.

Read More

“Kita tahu, konser Taylor Swift baru-baru ini di Singapura berhasil diselenggarakan selama enam hari, sedangkan Indonesia hanya menonton dari jauh,” ujar Jokowi dengan nada prihatin. “Ini bukan hanya soal kehilangan kesempatan untuk menikmati konser, tetapi juga soal aliran uang dari Indonesia ke luar negeri untuk belanja tiket, hotel, makanan, dan transportasi.”

Jokowi juga menyinggung kasus serupa yang dialami oleh band Coldplay, yang hanya bisa menyelenggarakan satu konser di Indonesia pada November tahun lalu, sementara negara-negara tetangga seperti Singapura dan Thailand mampu menarik mereka untuk tampil berhari-hari.

“Saya yakin lebih dari separuh penggemar Coldplay di sini adalah warga Indonesia. Namun, karena perizinan yang rumit, mereka hanya bisa tampil sehari,” ucap Jokowi. “Ini adalah tantangan besar bagi kita untuk meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tuan rumah konser-konser internasional.”

Meskipun ada peningkatan dalam peringkat Indonesia dalam indeks pembangunan pariwisata dan perjalanan 2024, dari peringkat 32 menjadi 22, Jokowi tetap menegaskan bahwa masih ada jarak yang harus dikejar dengan negara-negara lain seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura.

“Ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menyelesaikan masalah ini, meningkatkan proses perizinan, dan memperbaiki infrastruktur pendukung agar Indonesia tidak lagi ketinggalan dalam persaingan global dalam industri hiburan,” tandasnya.

Upaya untuk memperbaiki proses perizinan ini diharapkan akan membantu Indonesia tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata dan industri hiburan, tetapi juga mengurangi aliran uang keluar ke negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *