Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), mengungkapkan bahwa prevalensi anak-anak di Indonesia yang mengalami alergi susu sapi mencapai 7,5 persen. Pernyataan ini didasarkan pada data terbaru dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang menyoroti peningkatan kasus alergi susu sapi di kalangan anak-anak.
“Data menunjukkan bahwa dari 0,5 hingga 7,5 persen anak di Indonesia menderita alergi susu sapi, menegaskan kebutuhan untuk pengenalan dini dan penanganan yang tepat terhadap kondisi ini,” ujar Prof. Budi dalam diskusi daring yang diadakan di Jakarta.
Menurutnya, alergi susu sapi terjadi saat sistem kekebalan tubuh anak bereaksi berlebihan terhadap protein dalam susu sapi, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan mereka. Meskipun umumnya kasus ini lebih sering ditemukan pada anak-anak, tidak menutup kemungkinan bagi orang dewasa untuk terkena juga.
Prof. Budi menjelaskan bahwa gejala alergi susu sapi dapat bervariasi, termasuk timbulnya ruam, rasa gatal, sesak nafas, dan dalam beberapa kasus, kolik atau reaksi yang lebih serius seperti anafilaksis. “Gejala utama yang sering dialami adalah diare, yang mencapai 53 persen pada kasus anak-anak dengan alergi susu sapi,” tambahnya.
Untuk penanganan, ia menekankan pentingnya orang tua untuk mengidentifikasi gejala tersebut dengan cepat dan berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis yang tepat. Langkah pertama yang direkomendasikan adalah menghilangkan susu sapi dari diet anak dan mencari sumber nutrisi alternatif yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan mereka.
“Dalam menangani alergi ini, pendekatan preventif dan pemantauan terhadap pertumbuhan anak secara rutin sangat penting dilakukan,” pungkas Prof. Budi.
Data ini menggarisbawahi perlunya kesadaran lebih luas terhadap alergi susu sapi di masyarakat serta upaya yang berkelanjutan dalam menangani kondisi ini secara efektif untuk kesejahteraan anak-anak di Indonesia.






