Di pelataran Istana Merdeka, dalam suasana santai, Presiden Joko Widodo kembali menegaskan komitmennya untuk mengembangkan sepak bola Indonesia. Di tengah pengenalan menteri-menteri baru, perhatian utama tertuju pada Zainudin Amali, Menteri Pemuda dan Olahraga. Dalam pesan singkatnya, Presiden menekankan pentingnya perbaikan sepak bola Indonesia dengan ungkapan sederhana: “Sepak bolanya, Pak!”
Kalimat tersebut tidak hanya menjadi candaan, tetapi mencerminkan tantangan besar yang dihadapi sepak bola Indonesia. Setelah periode kelam antara 2014 hingga 2019, di mana masalah dualisme organisasi dan pengaturan skor menghambat kemajuan, Presiden Jokowi mengambil langkah strategis. Pada awal 2019, ia menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 3 untuk mempercepat pembangunan sepak bola nasional, menjadikan sepak bola sebagai fokus utama pemerintah.
Program renovasi stadion di 11 provinsi senilai Rp2,87 triliun telah dilaksanakan, memperkuat infrastruktur sepak bola. Selain itu, dana sebesar Rp127,10 miliar juga dialokasikan untuk pengembangan pusat pelatihan PSSI dan dukungan timnas.
Selama pandemi COVID-19, meskipun kompetisi dihentikan, upaya pemerintah dan PSSI tetap berlanjut. Pelaksanaan Piala Menpora menandai kebangkitan sepak bola nasional, yang diikuti oleh prestasi membanggakan tim nasional. Timnas Senior lolos ke Piala Asia 2023 dan 2027, sementara tim U-16 meraih juara Piala AFF 2022.
Kerjasama harmonis antara pemerintah dan PSSI terus berlanjut, dengan pelatih Shin Tae-yong yang sukses membawa timnas Indonesia mencapai babak 16 besar Piala Asia 2023. Peringkat FIFA timnas pun meningkat dari 173 menjadi 133.
Dengan dukungan FIFA yang menyalurkan dana hibah dan membuka kantor di Jakarta, optimisme semakin menguat untuk membawa sepak bola Indonesia ke pentas dunia. Keberhasilan dan sinergi ini memberikan harapan baru untuk masa depan sepak bola nasional yang lebih cerah.






